Take It Easy and Have Fun!

Sebenarnya sudah lama rindu untuk kembali menulis blog namun ada beberapa Kendala yang tak begitu berarti belakangan ini. Aku lagi malas baca buku, jadi enggak ada review buku yang bisa aku tulis. Baiklah aku akan menuliskan beberapa challenges aneh yang pernah aku buat untuk diriku sendiri. Enggak ada alasan khusus juga sebenarnya untuk membuat berbagai macam tantangan yang aneh itu. Whatever, I have so much fun with it.

Tantangan yang pernah aku buat adalah take a selfie at least one picture a day. Aku termasuk orang yang jarang mau ikut berfoto. Suka enggak percaya diri gitu kalau sudah di depan kamera. Aku merasa mukaku aneh. Mukaku tidak mulus dan tidak simetris, tidak cantik dan bla bla bla. Untuk memastikan apakah semua itu benar aku harus benar-benar melihat wajahku melalui sebuah foto, baik yang diambil dengan angle yang sempurna ala-ala professional photographer atau yang seadanya.

Aku memulai tantangan ini sejak awal tahun 2018. Aku pengin melihat apakah ada perubahan yang signifikan di wajahku selama satu tahun. Kuyakin bakal banyak perubahan. Bisa saja aku berubah menjadi semakin tembem atau KURUS. Bagian kata kurus harus dihitamkan sebab itu sudah menjadi goal sejak lama tapi tidak pernah kesampaian. Bahkan hal yang sejak dulu tidak diidamkan yang malah menjadi kenyataan. Berat badanku bertambah dengan sangat cepat sejak rajin mengonsumsi nasi Padang.

IMG20180512072947.jpg IMG20180515104854.jpg

IMG20180524174532.jpg IMG20180618143221.jpg

IMG20180525155014.jpg IMG20180410104839.jpg

Dalam berswafoto, biasanya aku mengambil beberapa foto. Sebelum mengenakan jilbab dan setelahnya. Kemudian foto terbaik akan aku simpan. Dan akan dicetak suatu hari nanti.

Tantangan selanjutnya adalah untuk tidak mengecek gawai selama berada di transportasi umum terkhusus angkutan kota. Boleh dikatakan sih aku sebenarnya kecanduan gawai. Sekitar seperempat dari waktuku setiap harinya adalah untuk berinteraksi melalui gawai. Dengan membuat tantangan begini kuberharap aku bisa sedikit lebih peka sama keadaan di sekitar. Kubisa melihat gedung apa saja yang telah selesai dibangun, apa saja yang dilakukan orang-orang di jam sibuk, atau kendaraan jenis apa saja yang melintas hari itu. Namun, tujuan utamanya adalah untuk menjauhkan diriku dari penyakit mental. Karena menurut WHO kecanduan gawai akut telah masuk ke dalam salah satu mental illness.

I love people, I love books, I love things but I love MY SELF the most.

Tantangan selanjutnya yang selalu aku buat setiap tahunnya adalah to stay single. It does not mean I hate to mingle or gather with my peers. I do not want to involve into any kinds of special relationship. It has been more than 23 years I get along with myself and I do not event bored with it. Do not hesitate me, I am a normal people and quite easy to fall in love. HAHAHA

Selain yang tiga ini, masih ada tantangan-tantangan aneh yang kubuat. Misal mencoba untuk menyapa duluan, pamit jika hendak pergi, berkabar kepada keluarga dan teman, dan lainnya. Kusulit berinteraksi dengan orang lain karena aku lebih banyak menghabiskan waktu sendirian sejak kecil. Ditambah dengan lingkungan keluarga yang serba do yourself dan cuek membuatku agak canggung untuk menyapa, berpamitan, bersimpati dan berempati.

Memberikan tantangan-tantangan untuk improve kemampuan diri itu baik adanya. Ya walaupun kadang terdengar aneh. Tantangan apa saja yang pernah kamu buat selama ini?

 

 

New Family Member

Beberapa hari yang lalu, teman satu indekosku membawa seekor anak kucing yang masih erat menyusu dengan induknya. Katanya setelah dicek di musala, tidak ada induk kucingnya. Hanya anaknya saja yang berteriak lapar minta susu. Dia dengan senangnya, ia memberikan anak kucing tersebut padaku saat hujan turun malam-malam. Ia bilang, ia akan membelikan susunya dengan syarat aku yang merawatnya.

IMG20180809091208.jpg
Mamake, aku butuh susu!

Aku bingung kenapa setiap ada permasalahan menyoal kucing selalu diserahkan kepadaku.

Aku awalnya agak enggak srek gitu. Soalnya setiap pagi hingga sore hari aku harus bekerja di kantor. Ditambah lagi dengan jadwal yang saat sibuk saat ini. Masa-masa penelitian dan verifikasi berkas bakal calon DPRD Sumatera Utara.

IMG20180805133534.jpg
Lagi mimpi jadi penari balet atau gimana sih, Ka?

Tapi setelah aku lihat kucingnya, cantik memang. Warnanya putih semua dan abu-abu pada bagian mulut, kaki, dan telinga. Boleh juga nih dipelihara. Kan Lontong—nama kucingku yang satu lagi, juga sudah besar. Walaupun sudah besar, Lontong tetap saja tidak bisa mencari makan sendiri. Yang dia tahu, hanyalah meminta makan dan diletakkan di piringnya. Kalau diletakkan di atas tangga atau di atas bangku, dia tak akan bisa menemukan makanannya. Sepertinya indera penciuman Lontong tidak lagi bagus walaupun ia masih muda.

IMG20180805125422.jpg
Hoaaaam!! 

Satu malam bersamaku, anak kucing kecil yang aku beri nama Kaka harus diangkut ke luar kota. Untuk empat hari lamanya, aku harus ke luar kota untuk melaksanakan evaluasi pelaksanaan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara di setiap kabupaten dan kota. Tidak adanya orang yang akan memberikannya susu saat aku pergi, dengan terpaksa dia harus aku angkut. Tidak susah juga sebab kami melakukan perjalanan menggunakan mobil dinas kantor.

IMG20180809090529.jpg
Seakan-akan dia bilang, janganlah ke kantor. Di rumah ajalah samaku. 

Aku selalu menjadi pusat perhartian ketika orang-orang mendengar suara anak kucing. Selama di Tangkahan, tempat penangkaran gajah di Sumatera Utara yang terletak di Kabupaten Langkat, semua turis mengerumuniku. Mereka senang dan ada juga yang geli karena anak kucing yang aku bawa masihlah sangat kecil.

Selama beberapa jam di Tangkahan, Kaka aku letakkan di dalam kotak sepatu. Setelah memberinya susu, aku bebas berenang, makan durian, berusaha menangkapi ikan dan banyak kegiatan lainnya. Ternyata tidak serempong yang aku pikirkan. Setelah kenyang menyusu, ia akan tidur dan akan bangun setelah beberapa jam kemudian.

What a lovely cat you are, my baby!

IMG20180809085843.jpg
Harusnya fokus kameranya sama Kaka bukan ke muka aku.

Perjalanan masih dilanjutkan esok harinya. Kaka juga masih diajak serta. Teman satu kamarku di indekos sedang pergi ke rumah calon kakak iparnya. Si kakak selalu minta ditemani setiap akhir minggu. Sehingga aku tak punya teman kalau akhir pekan. Mayan. Aku punya waktu untuk me time.

Lagi aku menjadi pusat perhatian ketika kami berada di pantai Bali di Kabupaten Sedang Berdagai. Kaka sudah menjadi pusat perhatian sejak dari dininya. Aku juga bingung sih sebenarnya dengan setiap pertanyaan mereka.

“itu kucing biasa, ya?”

Aku jawab “iya”

IMG20180809090549.jpg
Kaka. Say Hi!

Memangnya selama ini ada kucing jadi-jadian yaa. Heheh. Iya lama-lama memang merasa kayak ibu sungguhan lo. Setiap hari di kantor selalu memastikan supaya dia bisa menyusu pada siang harinya. Aku kadang bekerja hingga malam. Banyak saja yang harus dikerjakan. Ada saja. Periksa berkas ini. Input data ini.

Aku lagi di ambang kegalauan nih di kantor. Pekerjaan masih banyak. Hujan turun dengan sangat derasnya. Ingatannya jadi ingin pulang saja. Kaka belum bisa ngapa-ngapain karena masih terlalu kecil. Kadang sikap sok cantinya yang bikin rindu. Gaya tidur yang aneh dan segala macamnya. Tapi kutak merindukan suaranya sama sekali. Suaranya sangatlah besar seakan merobek gendang telinga.

Ya Allah Kaka. Rindu sekali aku!

IMG20180806204739.jpg
Tempat tidurnya dipindah ke kotak kertas karena ia lasak dan suka keluar dari kotak sepatu.
IMG20180809085657.jpg
Dot yang di sana belum ada air susunya, Kaka!
IMG20180803205805.jpg
Galeri HP penuh sama foto Kaka aja udahan.

 

Tempat Favorit di USU

Beberapa bulan yang lalu, akhirnya aku memiliki sepeda. Sedikit drama juga awalnya untuk mencari jenis olahraga yang cocok untuk tubuhku yang sudah sangat bengkak. Setiap hari aku bekerja dan seringnya pulang malam karena lagi proses pendaftaran bakal calon legislatif dan dewan perwakilan daerah daerah pemilihan Sumatera Utara. Kalau pun mau ke gym, kelas akan dimulai sejak setengah delapan malam. Dan biasaya, aku belum meninggalkan kantor di jam segitu.

Awalnya sempat mikir buat lari atau jogging lagi. Mungkin setengah jam sebelum berangkat kerja atau malam setelah kerja. Sempat nyoba beberapa hari juga sih. Tapi, kayaknya kakiku enggak sanggup menopang badanku jika dibawa untuk berlari. Kasian juga nanti ankle cidera. Yups, jadilah aku membeli sepeda.

IMG20180806171728.jpg
Pemandangan di belakang Gedung Pancasila USU.

Awal-awalnya bersepeda juga enggak sanggup jauh-jauh. Jarak lima kilometer merupakan jarak terjauh yang pernah aku tempuh. Itupun sudah ngos-ngosan. Sesak napas. Rasanya mau tiduran di trotoar jalan di USU karena dengkul udah enggak sanggup lagi untuk mengayuh pedal. Jadilah sekretariat organisasi kampusku dulu menjadi tempat peristirahatan.

Masih belum ada target tertentu di awal sebab enggak ada pengukur jarak yang akurat. Setelah sebulan bersepeda tanpa target, akhirnya aku menemukan aplikasi untuk mengitung jarak, jumlah kalori yang terbakar, dan kecepatan rata-rata saat bersepeda. Yups, dari hari ke hari mulai gelayapan di USU. Biasanya Cuma keliling-keliling saja. Sekarang sih udah mulai masuk ke tempat-tempat favorit semua umat di USU.

IMG20180806171818.jpg
Enak sih gowes di sini.

Ini Pendopo USU yang sekarang sudah berganti nama menjadi Gedung Pancasila. Biasanya di sini banyak orang-orang yang melakukan foto pre-wedding. Untuk view-nya lumayanlah. Di sisi sebelah kiri Gedung Pancila yang merupakan hutan, dijadikan tempat pratikum teman-teman dari jurusan kehutanan. Jenis pohon yang ditanam, monokultur. Hanya pohon mahoni saja. Di sepanjang jalan di Gedung Pancasila ditanam pohon saga. Pohon ini memiliki daun yang kecil-kecil mirip daun petai. Jika dilihat dari struktur daun, bentuk buah, sepertinya pohon saga masih satu keluarga dengan tanaman petai.

IMG20180806172024.jpg
Sisi Kanan Gedung Pancasila USU

Pada musim-musim tertentu, daun saga akan berguguran dan memberi efek seperti sedang musim gugur. Ya walau tak cantik-cantik amat kayak daun pohon maple ya bolehlah. Dan di saat musim berbuah, buah saga yang berwarna merah akan berguguran ke tanah. Pinggiran jalan akan memerah. Aku juga senang mengumpulkan buah saga ini untuk diletak di dalam vas bunga. Kalau beli batu aneka warna dan mahal juga. Mending ini saja. Gretong…………

Selain hutan saga di belakang Gedung Pancasila, spot favoritku lainnya ada di Taman Cinta. Dulunya banyak mahasiswa yang pacaran di sini. Itulah yang menjadi alasan tempat ini dinamakan dengan taman cinta. Di sini juga ditanami dengan pohon saga. Sepertinya juga monokultur. Dari semua pohon yang ada, bentuknya sama semua. Ulasan seperti inilah yang bisa diberikan oleh anak sastra kalau lagi memberi review untuk jenis pohon-pohonan.

IMG20180806173012.jpg
Di sisi kanannya ada lapangan sepak bola. So, kalau mau liat abang-abang keren berkeringat tinggal noleh ke kanan aja.

Aku suka di sini sebab di seberangnya ada lapangan bola. Ya bolehlah sesekali ngeliatin anak-anak cowok berlari sambil keringatan. Astagaaaaa……..

Alasan lain aku suka di sini karena sejuk. Setelah gowes agak lima belas kilometer aku akan break sejenak di sini sambil minum jeruk peras.

IMG20180806173123.jpg
Masih salah satu sudut di Taman Cinta.

Yups, inilah tempat favorit jika sedang gowes di USU. Trip selanjutnya aku akan coba ke Hutan Dharma dan Taman Rusa USU yaw.

Aku suka sepedaan. Kalau kamu jenis olahraga seperti apa yang dipilih?

Siapa Suka ke Tangkahan?

Setelah bertahun-tahun lamanya membangun mimpi, akhirnya satu per satu mulai terwujud. Pertama kali tahu Tangkahan itu apa pada tahun 2015 silam dan sejak saat itu jugalah aku mulai berusaha menabung untuk jalan-jalan ke Tangkahan. Mulai nyari-nyari informasi di google juga mengenai biaya ke sana, akses, dan segala macam hal yang harus dipersiapkan. Namun berkat segala usaha yang tak maksimal, aku baru berhasil ke sana pada bulan ini. Sesampainya di sana, aku langsung menanyakan nama-nama gajah dan mencari gajah yang bernama Yuni. Sebab di majalah mahasiswa yang aku baca, salah satu gajah di sana ada yang bernama Yuni.

_MG_3411.JPG
Gajah yang aku mandikan ini bernama Yuni. Sekarang sudah berumur 21 tahun dan menyusui anak berumur 3 tahun. 

Gajah di sana memang tak sebanyak yang aku bayangkan. Awalnya, di dalam bayanganku, bakalan ada ratusan hewan raksasa itu di sana, namun hanya belasan. Ternyata tidak bisa menernakkan gajah seperti jenis hewan lainnya seperti kuda, ayam, sapi dan lain-lain. Untuk mengandung satu anak gajah, membutuhkan waktu dua tahun. Ya allah lama ya.

Kemudian gajah akan menyusui anaknya hingga umur lima tahun. Ya amppuuun capek beut jadi gajah. Semua-semuanya lama. Setelah masa menyusui berakhir, gajah butuh waktu beberapa tahun kemudian untuk kembali hamil dan melahirkan satu anak gajah lagi.

_MG_3524.JPG
Eropa (kiri) dan Cristopher (kanan) sedang disuapi makan oleh ranger. Anak-anak sengaja diberi makan duluan agar tak mengganggu turis-turis yang sedang memandikan induknya. 

Gajah tertua di Tangkahan bernama Sari. Ukuran tubuhnya tidak sebesar gajah-gajah yang lainnya. Lebih kecil. Penyebabnya adalah dia yang telah tua dan banyak keriputnya. Maka badannya lebih kecil. Hahahah. Kemudian ada Yuni, Olive, dan satu lagi betina lupa namanya siapa. Di sana cuma ada satu pejantan, namanya Leo. Dalam tiga tahun terakhir, tiga ekor gajah melahirkan masing-masing satu anak. Christopher berkelamin jantan, dan dua lagi betina Eropa dan satu lagi enggak tahu namanya. Sebab, ia berlari kian kemari. Yang bandal dan badung itu anaknya si Yuni. Ternyata ia tak semanis induknya yang hanya duduk dan diam saja saat dimandikan.

_MG_3501.JPG
Leo, satu-satunya gajah jantan dewasa di penangkaran Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat.

Karena terlalu kegirangan, banyak hal yang aku lupa tanyakan pada ranger-nya. Nama sungainya saja aku lupa. Bukti dari terawatnya hutan di sekitar Tangkahan adalah air yang sangat jernih. Sungai tempat memandikan gajah ini, airnya bening sekali. Banyak ikan kecil yang berlarian di sela-sela batu. Tak hanya satu jenis. Banyak. Warga setempat juga dengan santainya mengikatkan joran pancing ke batu-batu besar di pinggiran sungai. Katanya, sungai ini masih sangat kaya akan berbagai jenis ikan sungai.

_MG_3696.JPG
Salah satu spot terbaik di tempat pemandian gajah di Penangkaran Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat.

Sungai juga dijadikan sebagai alat transportasi gratis bagi masyarakat. Hutan yang masih terjaga dengan baik, dapat dijadikan masyarakat sebagai sumber uang. Buah-buahan yang tumbuh begitu saja dapat dipanen di kala musimnya. Sekarang lagi musim durian. Masyarakat membawa durian hasil panen dari hutan menggunakan dua rakit bambu. Agar rakit mengapung dengan baik, si Bapak mengikatkannya ke ban mobil yang besar. Sehingga ratusan hasil panen dapat di angkut ke pedesaan dan dijual ke berbagai tempat dengan sepeda motor.

_MG_3698.JPG
Si Bapak menurunkan hasil panen dari rakit buatannya sendiri ke pinggir sungai agar diangkut ke desa untuk dijual. 

Duriannya enak. Benar-benar durian yang telah matang yang boleh diambil. Durian yang telah jatuh sendirinya akan diambil dan dijual. Rasanya benar-benar beda jika dibandingkan dengan tempat-tempat penjualan durian yang ada di Medan seperti di Ucok Durian, Si Bolang, dan Durian Awak. Mereka memasok durian dari berbagai tempat sehingga mustahil rasanya durian yang baru jatuh dari pohon saja yang diambil. Kalau begitu boleh jadi duriannya sudah busuk sampai di sini. Pada umumnya, durian yang mereka pasok masih dalam keadaan mengkal dari daerah. Ya jelaslah rasanya berbeda.

_MG_3699.JPG
Bang Ilham, tukang durian wanna be!

Selain enak, durian di sini dijual dengan harga yang sangat murah. Satu buah dijual dengan harga sepuluh ribu rupiah saja. Semuanya dijual dengan harga yang sama tak perduli itu besar atau kecil, maupun berbeda jenis. Kalau di Medan, duriannya dijual per kilo. Satu kilogram itu empat puluh ribu rupiah paling murah. Satu buah durian beratnya bisa mencapai dua atau tiga kilogram. Rasanya agak rugi sebab kulit durian kan juga ikut ditimbang. Ya fifty-fifty lah. Dalam satu kilogram durian bisa saja berat bersih danging hanya setengah kilogram, sisanya dari kulit. Kalau gini kan syediiih.

_MG_3701.JPG
Kami makan sampai sampai enam buah durian lo. Kata Kak Nisa biar gak mabok duren minum di kulitnya nanti. Walapun gak minum, aku gak mabok duren kok. 

Hanya kami bertiga yang menyukai durian, Aku, Kak Nisa dan Bang Ilham. Sedangkan Yuni sama sekali tidak menyukai durian. Ia bilang, dulu pernah temakan sama ulat-ulatnya. “Ulatnya uget-uget di mulut,” ujarnya. Kasian Yuni yang tidak lagi menyukai durian. Menurutku ya, Durian merupakan buah yang paling enak. Ya bagaimanapun juga, setiap orang memiliki selera yang berbeda.

_MG_3708.JPG
Tuh dia minum di kulit duriannya. Aku mah minum aqua saja. 

Sebenarnya kemarin mau ikut tracking sama gajahnya. Tapi sudah full booked. Ketika kami datang juga banyak wisatawan dari negara lain. Mereka satu rombongan dari Spanyol. Kalaupun masih ada gajah yang bisa dinaiki untuk tracking, akunya gak ada uang juga sih. Syediiih. Untuk satu jam tracking di Taman Nasional Gunung Leuser membutuhkan biaya sekitar enam ratus lima puluh ribu rupiah satu orangnya. Wajar saja mahal. Mereka juga butuh uang untuk membeli pakan gajah dan perawatan lainnya.

_MG_3678.JPG
Maulah aku ikut juga!

Pada trip ke dua, kamilah yang menjadi gajahnya. Setelah semuanya pergi tracking dan rafting, kami nyemplung ke sungai. Airnya segar dan bening sekali. Kami bisa melihat-lihat bebatuan yang berwarna-warni di dasar sungai. Ada ikan-kan kecil. Ternyata skill berenang di kolam renang tak terpakai selama di sungai. Aku hanyut malahan. Gak bisa. Jadilah aku hanya mengapung bagai kotoran manusia saja dan dibawa arus sungai.

Aku membatin. Bolehkan aku tinggal di sini saja?

IMG_3734.JPG
Tetiba kami sudah menjadi badak air sesungguhnya. 

Ini soal yang enak-enaknya. Mari kita lanjutkan dengan akses jalan ke sana ya. Jalannya jelek. Benar-benar jelek. Kami melintasi jalan yang sempit di tengah-tengah hutan sawit. Jalanan masih tumpukan batu. Tidak ada aspal licin seperti yang kita temui di kota. Bagi yang mabuk perjalanan, ya siap-siap saja untuk mengeluarkan isi perut. Ini benar-benar mengocok perut. Bukan untuk tertawa tapi menuju tempat penangkaran gajah di Tangkahan, Kabupaten Langkat.

_MG_3686.JPG
Maulah jadi ranger juga. Ya tuhan mukaku kok kayak gini amat si. Eh ada empengnya Kaka nongol. hehe

Jarak dari Kota Stabat ke Tangkahan sekitar 53 kilometer. Namun tak bisa ditempuh dalam waktu satu jam saja walaupun dekat. Perjalanan ini menjadi tiga jam lamanya disebabkan oleh kondisi jalan yang tidak rata, pinggiran jalan yang sudah tergerus arus sungai dan berakibat longsor. Aksesnya benar-benar buruk. Ditambah lagi dengan petunjuk jalan yang kurang baik. Kami sempat berjalan sangat jauh namun harus kembali berputar arah karena perbaikan jembatan. Maunya kita dari awal telah diberi aba-aba atau petunjuk jalan yang jelas agar tak memutar arah kembali. Tapi itu kan maunya kita sebagai pengunjung.

_MG_3439.JPG
Brusnya hanya dipegang aja, enggak buat menggosok daki gajahnya. Hey love bird jan numpang eksis aja. 

Jika disuruh tinggal di sana, aku tak bisa tahan lama-lama. Untuk ke kota saja membutuhkan waktu yang sangat lama. Tak ada transportasi umum. Semuanya menggunakan sepeda motornya masing-masing. Berharapnya, pemerintah peka terhadap kebutuhan masyarakat di Tangkahan soal akses. Tak masalah jauh terkubur di dalam hutan tapi tidak akan terasa memberatkan jika kases jalan yang baik. Sehingga waktu tempuh dari Tangkahan ke kota tidak memakan banyak waktu.

Walau begitu, aku malah ingin ke sana lagi untuk waktu yang lebih lama. Ya agak semingguan lah. Bisa ikut rutin memandikan gajah. Sesekali tracking atau rafting. Ikut mencari buah-buahan yang bisa dijual di dalam hutan bersama warga setempat. Desa memang kejam tapi masih ada keramahan.

_MG_3625.JPG
Sebelum pulang, foto keluarga dulu dong!

Ini momen yang aku buat di bulan Agustus. Sudah berapa banyak momen yang kami buat pada bulan ini?

 

Hello August!

Selamat berjumpa kembali August! Banyak jenis suka cita yang ada di bulan Agustus. Dimulai dari kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamirkan pada bulan ini. Dilanjutkan dengan terlaksananya seminar proposal skripku setelah melaksanakan tujuh kali pendaftaran. Hingga saat ini, aku tak habis pikir kenapa begitu sulitnya untuk mendapatkan jadwal seminar proposal skripsi. Kampusku oh kampusku!

Di Agustus ini juga aku memulai bekerja di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Aku lupa tepatnya pada tanggal berapa. Aku dan Intan—yang selalu ada di blogku menjadi tenaga pendukung selama berlangsungnya proses Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) Tahun 2018. Yups, aku menerima saja untuk bekerja di sini sebab kegiatanku di rumah juga tidak banyak. Sesekali pergi liputan. Kadang-kadang ke kampus dan kadang-kadang membaca buku.

Dan hal yang menyenangkan juga bakal terjadi di bulan ini. Kontrak kerja di KPU Sumut juga akan berakhir. Kusenang sekali sebab tak ada lagi cerita untuk pergi pagi, pulang pergi karena mengecek berkas partai politik atau dokumen calon dan dokumen pencalonan. Perihal yang membuat lelah itu, sikap dari berbagai jenis partai politik yang ada di Sumut. Selama empat belas hari dibukanya masa pendaftaran caleg, partai politik baru menyerahkan dokumen pendaftaran pada hari ke-13 dan ke-14. Setiap dokumen yang diserahkan harus dicek sampai tuntas di hari itu juga . Sehingga, kami harus begadang hingga pagi demi melayani masyarakat dalam menyalurkan hak berpolitiknya.

Perihal menarik lainnya adalah aku berencana untuk kembali ke kampung halaman untuk melakukan sedikit hunting foto dan berkumpul dengan beberapa teman. Sejak tamat dari bangku sekolah, aku jarang sekali bertemu dengan mereka. Jadwal libur kuliah di Universitas Sumatera Utara tempatku belajar sangat berbeda dengan universitas lain di Indonesia. Pada umumnya, libur semester ganjil akan dimulai jelang hari raya Natal dan hingga akhir bulan Januari. Sedangkan, jadwal libur di USU akan dimulai di akhir bulan Januari. Semua teman-teman sudah balik ke tempat mereka berkuliah dan aku baru balik ke Sumatera Barat. Dan setelah masuk ke dunia pekerjaan, jadwal untuk menyesuaikan liburan juga semakin payah.

Walau nanti tak berjumpa dengan mereka, at least I meet my momma and my animals.

Kuharap bulan Agustus bulan maha baik seperti bulan-bulan lainnya.

 

Create The Moment!

Seumur-umur, aku baru dua kali berkemah. Sejak masuk sekolah dasar hingga kuliah, aku tidak pernah mendapatkan izin untuk bergabung ekskul Pramuka. Kata Ibuku, mending ikut membantu di ladang atau membereskan pekerjaan rumah daripada pergi berkemah. Saat berkemah itu dingin, tak ada kasur, banyak nyamuk, dan tubuh akan berbau asap ketika mengikuti acara api unggun di malam harinya.

Aku salah satu anak penurut. Aku ikut apa kata Ibu saja.

Ketika masuk kuliah, aku dan beberapa teman di organisasi kampus melakukan hiking ke salah satu bukit yang ada di sekitaran Danau Toba. Kusudah lupa apa nama bukitnya. Perencanaannya, berangkat sore hari dari Kota Medan dengan harapan sampai di puncak dini hari, kami akan beristirahan saban sebentar menunggu terbitnya matahari. Karena terlalu banyak drama selama di perjalanan, sampailah kami di puncak pukul 07.00 WIB.

Tak ada matahari terbit. Tak ada matahari di langit. Tak ada juga pemandangan Danau Toba yang cantik. Adanya, hanyalah kabut asap yang bersumber dari pembakaran lahan perkebunan di berbagai provinsi di Indonesia.

 

Woooow. Kami berada di negeri asap bukan negeri di atas awan.

IMG_8167
Ketika baru sampai di Puncak. Masih bingung mau tetap mendirikan tenda atau tidur saja. Kusudah lupa ini foto siapa yang jepret.

Sebagai pendaki amatir yang tidak pernah tahu kostum, aku memakai kostum seadanya. Aku hanya memakai celana tidur tipis yang terbuat dari bahan katun. Bisa dibayangkan sih, kalau kena ranting aku pasti luka. Jika angin bertiup kencang aku akan kedinginan. Dan waktu aku jatuh terguling karena tak sanggup menahan beban badan, itu celana koyak di lutut. Hahaha…

IMG_8459.JPG
Ini aku. Pakai sling bag, kaos tipis bergambarkan rumah adat Minangkabau, celana katun tipis, kaos kaki coklat yang tipis. Aku merasa pernah menjadi manusia goblok! Lagi, aku lupa ini foto siapa yang ngambil.

Hal menarik lainnya adalah, setiap pendaki pasti membawa ransel atau carrier  tapi aku malah membawa sling bag. Rasanya bahuku mau putus mengangkut itu barang dari kaki bukit hingga sampai ke puncak. Memang tidak terlalu banyak beban yang kubawa, dua liter air mineral, biskuit, susu, baju, dan sebagainya.

“Ya Tuhan, kapankah penderitaan ini akan berakhir?”

Aku sudah mengeluh di pertengahan jalan. Berkat dukungan dari berbagai teman, akhirnya aku sampai di puncak. Langsung tidur di dalam kantong tidur yang telah kami sewa. Tanpa lihat kiri dan kanan. Tanpa membantu yang lain mendirikan tenda. Ya Tuhanku. Kurasa perjalanan ini merupakan salah satu hal bodoh dan tak berguna yang pernah kulakukan.

IMG_8468.JPG
There’s still a long way Dude. Aku yang pakai sling bag di depan kakak-kakak jilbab pink. Ini entah foto siapa. Pinjam dulu yaa!

Aku juga bukan tipe manusia yang mementingkan olahraga untuk menjaga daya tahan tubuh dan ketahanan otot-otot organ tubuhku. Setelah tidur beberapa jam saja, kami kembali turun pukul 11.00 WIB. Kembali menyusuri jalan yang sama dan berusaha berlari dengan cepat agar sampai di tempat pemberhentian sepeda motor.

Kutak sanggup menahan beban badanku untuk berjalan dengan pelan dan hati-hati di turunan. Karena merasa terdorong ke depan, secara spontan aku berlari dan sulit untuk berhenti. Badanku yang besar dan dilengkapi dengan lemak-lemaknya tersungkur dan sedikit terguling. Setelah bangkit kembali, ternyata lututku dan sikuku sudah berdarah. Astagaaa. Kenapa aku melakukan hal-hal yang tak berguna seperti ini ya Tuhan.

IMG_8495.JPG
Almost there, My Dear! Jaga semangatnya! Kepala rombongan jalannya di belakang. Eh fotografer deng yang di belakang.

Aku dan rombongan akhirnya sampai di kaki bukit. Namun, tempat memarkirkan sepeda motor masihlah sangat jauh. Kami harus berjalan sekitar satu kilometer lagi agar sampai. Kusudah tidak tahan lagi. Rasanya seluruh sendiku sudah tak dapat difungsikan lagi. Aku memutuskan untuk tidur di pinggir jalan.

Aku tunggu di sini saja. Nanti kalian jemput aku di sini saja. Kusudah tak tahan.

Sayangnya tak ada yang mau mendengarkanku. Mereka bilang jika sampai di tempat pemberhentian sepeda motor tadi, warung-warung warga sudah beroperasi. Kita semua bisa makan makanan hangat. Ada sop. Ada bandrek. Ada the manis. Dan tentunya ada Bear Brand yang mampu meningkatkan stamina. Aku tak berkutik. Seolah-olah aku tak tertarik sama sekali untuk menikmati semua.

IMG_8503.JPG
Kakak ini senang. Akhirnya sampai juga di jalan raya.

Alih-alih mendapatkan perhatian dan dibiarkan menunggu di sana, aku malah ditarik oleh kepala rombongan agar tetap berjalan. Jika tak berjalan, maka aku akan diseret macam tahanan.

“Dalam perjalanan, tidak ada namanya meninggalkan kawan. Pergi dan pulang harus dengan jumlah yang sama” katanya.

Hiks. Kuterpaksa bangkit kembali.

IMG_8507.JPG
Aku dipaksa jalan sama mereka. Sling bag udah gak di bahu lagi udah pindah ke kepala. Udah kayak bawa noken aja ya. hehhe.

Pada umumya, kami yang berada di rombongan ini bukanlah penduduk setempat. Kami berasal dari berbagai provinsi yang ada di Sumatera. Hanya satu orang saja yang orang tuanya tinggal di daerah Tiga Panah, Kabupaten Karo. Jadilah rumah bang Fredick sebagai tempat kami makan siang.

Sebagai manusia yang tak tahu diri, aku tidur tanpa ikut membantu mamaknya Bang Fredick menyiapkan makan siang. Hanya Kak Mumu, Kak Shella, dan kakak-kakak yang lain yang ikut membantu. Sedangkan aku, Sitha, Intan, Yulien, Vany dan yang lainnya modom.

Ini benar-benar perjalanan yang konyol dan lawak yang pernah kulakukan.

Perjalanan ini memang jauh dari ekspektasi. Sebab matahari terbit di pinggir danau yang ingin kami lihat tersebut tidak ada. Jangankan mataharinya, danaunya pun tidak ada. Semua-semua tertutup kabut asap. Dasar manusia laknat dan terkutuklah yang melakukan pembakaran hutan.

IMG_8276.JPG
Akhirnya aku pernah juga berkemah. Ini bukan tenda kami. Punya orang lain semua.

Namun kenangan di masa perjalanan ini rasanya sangat menyenangkan juga untuk diingat kembali. Ada hal lucu yang bakal diceritakan kembali ketika berjumpa dengan teman-teman saat berkumpul.

Santi, tiba-tiba sakit malaria mendadak dan dia kedinginan. Kami terpaksa meminjam selimut ibu-ibu pemilik kedai kopi untuk menghangatkannya. Lagi, setiap sepeda motor yang ditumpangi Santi mengalami kebocoran ban. Aku tak bisa menyimpulkan apakah sebenarnya Santi yang sial atau kaminya yang memang kurang didukung alam untuk melakukan perjalanan ini. Setelah empat kali berganti motor, akhirnya rombongan Santi sampai di Panatapan. Kami berhenti sejenak untuk mengisi perut dengan berbagai makanan dan minuman hangat.

IMG_8124.JPG
Sebelum tragedi kehilangan HP dimulai. Lokasi di Panatapan Berastagi.

Drama Santi berakhir. Cerita selanjutnya dipegang oleh Sitha dan Yulien. Kedua smarphone anak ini diisi daya di tempat kami makan. Minta tolong dijagain oleh kasir. Wowww. HP Sitha yang notabenenya lebih murah dibandingkan HP-nya Yulien hilang mendadak setelah salah satu karyawan menanyakan apakah smartphone tersebut pakai kata sandi atau tidak.

Sitha punya smartphone tidak memiliki sandi pembuka. Kemudian lenyaplah itu barang. Padahal smartphone jenis apapun bisa di-reset ulang password-nya dengan cara mengembalikannya ke pengaturan pabrik. Kutak tahu apakah iPhone bisa dibuat seperti itu. Hmmmm kurasa tidak bisa.

Setelah berdrama dan diancam akan diberitakan di media bahwa Panatapan bukanlah tempat yang aman untuk dikunjungi, akhirnya si empunya lapak mengizinkan kami untuk menggeledah semua tempat termasuk juga karyawannya. Setelah beberapa menit berkeliling, jeng jeng HP-nya Sitha ditemukan di atas karung jangung yang diletakkan di kolong toko. Woooowww. Super sekali, saudara-saudara.

IMG_8389.JPG
Sebelum pulang foto bersama dulu dong!

Kurindu momen-monen begini. Walaupun pergi dengan dana pas-pasan dan stok makanan seadanya, tapi membuat kenangan. Kurasa lebih bahagia seperti ini jika dibandingkan dengan setiap saat selalu mengumpulkan uang. Apalah artinya hidup dengan banyak uang tapi tak pernah membuat kenangan. aseeeeek

Kenangan apa saja yang telah kamu buat di tahun 2018 ini?

 

 

*ini momennya di Oktober 2015. Tahun 2018 akan segera di-share ya!

 

Minggu Sedih

Bulan Juli merupakan bulan yang tak begitu bersahabat denganku. Pribadiku yang malas seakan-akan mau mati ketika dihujani berbagai jenis tugas di setiap harinya. Sejak berakhirnya Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara Tahun 2018, kegiatan per-KPU-an sangatlah banyak. Melakukan berbagai jenis monitoring dan supervisi ke banyak kabupaten dan kota. Menyusun laporan perjalanan dinas. Kemudian dilanjutkan dengan pembukaan pendaftaran DPD RI Dapil Sumut dan DPRD Sumut.

Kemarin, tanggal 11 Juli, sekumpulan masyarakat yang sangat mencintai negaranya pulang ke rumah masing-masing pada pukul 24.00 WIB. Dengan loyal, kami menunggu bakal calon DPD RI Dapil Sumut untuk mendaftarkan dirinya. Jadilah pendaftaran ditutup setelah sembilan belas orang calon yang datang dari dua puluh calon yang ada. Terkadang, mauku menyumpah serapah kenapa harus begini, kenapa harus begitu, kenapa tidak begini saja, dan harusnya seperti bla bla bla. Karena pulang selalu kemalaman, jadilah Badak Pink sebagai tumpangan untuk pulang. Bukan karena keikhlasan hatinya untuk mengangkutku. Hanya saja aku memaksanya tanpa harus mendapatkan kata persetujuan. Good luck Badak Pink. Welcome to dunia pertemanan a la Amelia.

Banyak rencana-rencana yang telah disusun jauh hari jadi tidak terlaksana. Misal, bulan ini aku berencana mau mengikuti kelas menulis dari tirto.id yang diadakan di Medan. Dengan lengan yang tersingsing, aku mendaftar sebab kelas ini merupakan salah satu kelas yang aku tunggu sejak lama. Namun, kelas dibatalkan karena pesertanya tidak mencapai batas minimal. Apa aku sedih? Tentu saja sangat sedih. Apalagi sebelumnya aku telah mendapatkan email konfirmasi waktu dan tempat pelaksanaan kelas. Tanpa sengaja,si bos dari divisi tetangga mengajak untuk ikut ke Nias. Aku senang tentunya. Nias salah satu pulau yang ingin aku kunjungi. Aku belum pernah ke sana karena tidak adanya sponsor yang cukup besar untuk mendanai. As you know, aku kan salah satu orang yang kere saat melakukan pelesiran.

Malam ini, 17 Juli 2017. Kejadian di tanggal 11 kembali terulang. Malam ini bisa jadi malam yang bakal sangat panjang. Menurut prediksi, pekerjaan ini akan segera berhenti setelah semua dokumen berhasil diverifikasi dan diteliti. Bagaimana dengan nasib kami? Seperti biasa, aku kembali memakan nasi padang dan berbagai jenis lauknya. Menu dietku tak lagi tahan. Aku kembung sepanjang malam. Dan kejuku diminta oleh si bos dari seberang jalan. By the way aku sedang menjalani diet DeBM. Kutak lagi makan nasi sejak enam belas hari lamanya. Perut tak lagi sebesar gentong walaupun belum terlihat seksi.

Hal yang aku sayangkan selama proses ini berlangsung adalah meninggalkan kekasih hati menginap sendirian di indekos. Dia tak ada teman di sana. Aku juga tak ada teman di sini. Kami menjalin hubungan di tempat yang susah sinyal. Kutak bisa melihat wajah dan penampakannya selama tak ada asisten yang bisa menghubungkan kami. Maksud hati nak membawanya turut serta ke tempatku mengumpulkan lembar-lembar rupiah. Tapi apalah daya, kutak sanggup gowes sejauh itu. Kutakut kakiku patah dari Padang Bulan hingga Gaharu naik sepeda. Hal lain yang aku takutkan adalah ketabrak mobil selama perjalanan. Medan kan jahat dan rawan.

Tapi kusenang karena dikasih gula-gula sama Imo. Kujuga senang karena dibelikan buah dan rujak sama Bapake Harry. Kujuga senang karena hari ini aku mandi di kantor setelah bak mandi dikuras Mamake Sarah. Biasanya, kamar mandi aku yang menjadi leading sector.

Ceritaku malam ini akan berakhir sebatas ini. Kutunggu kabar baik dari teman-teman semua. Dan kujuga menunggu saat-saat makan durian dan dibandari oleh rekan.